Jurnal

PENERAPAN PEMBELAJARAN MELALUI PENDIDIKAN MORAL
GUNA MENINGKATKAN KEPRIBADIAN DAN SIKAP SISWA

Oleh Amran Mahmud
Dosen PPKn FKIP UNTAD

ABSTRAK

Abstrak: Melihat kondisi banyaknya penyimpangan moral dikalangan anak-anak dan remaja saat ini, menjadikan tugas yang diemban oleh para guru/ pendidik dan perancang di bidang pendidikan moral sangat rumit. Apapun model pembelajaran yang digunakan, para guru dihadapkan pada sejumlah kondisi yang berada di luar kontrolnya, yang harus diterima apa adanya. Satu variabel yang sama sekali tidak dapat dimanipulasi oleh guru atau perancang pembelajaran adalah karakteristik siswa dan budayanya.Variabel ini mutlak harus dijadikan pijakan dalam memilih dan mengembangkan strategi pembelajaran yang optimal. Upaya apapun yang dipilih dan dilakukan oleh guru atau perancang pembelajaran haruslah bertumpu pada karakteristik perseorangan siswa sebagai subjek belajar serta budaya dimana siswa berada.
Kata Kunci: Pendidikan Moral, Sikap dan Kepribadian Siswa

PENDAHULUAN
Isu-isu moral dikalangan siswa saat ini seperti penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba), tawuran pelajar, pornografi, merusak milik orang lain, perampasan, penipuan, penganiyaan, perjudian, pelacuran, pembunuhan dan lainnya yang merusak moral siswa, telah menjadi masalah sosial yang sampai saat ini belum dapat diatasi secara tuntas. Kondisi ini sangat memprihatinkan masyarakat khususnya para orang tua dan para guru (pendidik), sebab pelaku-pelaku beserta korbannya adalah kaum remaja terutama para pelajar.
Rendahnya moral sebagian para pelajar merupakan tanggung jawab semua pihak, tidak hanya dilingkungan sekolah dalam hal ini para guru, akan tetapi lingkungan keluarga menjadi bagian terpenting dalam membenahi moral para pelajar, orang tua juga dituntun berperan aktif di dalamnya.
Sebagian kalangan menilai bahwa kondisi demikian diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi terhadap situasi ini. Mereka yang telah melewati sistem pendidikan selama ini, mulai pendidikan dalam keluarga, lingkungan sekitar, dan pendidikan sekolah, kurang memilki kemampuan mengolah konflik dan kekacauan, sehingga pelajar atau remaja selalu menjadi korban konflik dan kekacauan tersebut.
Dibidang pendidikan khususnya di sekolah, terjadinya penyimpangan-penyimpangan siswa tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab guru pendidikan agama. Tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh pengajar atau pendidik di sekolah. Para guru dituntut bertanggung jawab dalam pembentukan moralitas yang akan tumbuh, tidak hanya sebatas pada hafalan terhadap doktrin-doktrin agama. Pengetahuan tentang doktrin-doktrin agama tidak menjamin tumbuhnya moralitas yang bisa diandalkan.
PEMBAHASAN
Konsep Dasar Moral dan Penalaran Moral
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan beberapa kalangan mengemukakan defenisi moral dengan bentuk dan konsep yang berbeda. Menurut Lillie (dalam Budiningsih, 2004:24), kata moral berasal dari kata mores (bahasa latin) yang berarti tata cara dalam kehidupan atau adat istiadat.
Sedangkan Dewey (dalam Budiningsih, 2004:24) mengatakan bahwa moral sebagai hal-hal yang berhubungan dengan niai-nilai susila. Baron dkk (dalam Budiningsih, 2004:24) mengatakan bahwa moral adalah hal-hal yang berhubungan dengan larangan dan tindakan yang membicarakan salah atau benar. Magnis-Suseno (dalam Budiningsih, 2004:24) sendiri mengemukakan kata moral selalu mengacu pada baik buruknya manusia sebagai manusia, sehingga bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari segi kebaikannya sebagai manusia.
Norma-norma moral adalah tolak ukur yang dipakai masyarakat untuk mengukur kebaikan seseorang. Menurut Magnis-Suseno, sikap moral yang sebenarnya disebut moralitas. Dia mengartikan moralitas sebagai sikap hati orang yang terungkap dalam tindakan lahiriah. Moralitas terjadi apabila orang mengambil sikap yang baik karena ia sadar akan kewajiban dan tanggung jawabnya dan bukan karena ia mencari keuntungan. Jadi moralitas adalah sikap dan perbuatan baik yang betul-betul tanpa pamrih. Hanya moralitaslah yang bernilai secara moral.
Kohlberg (dalam Duska dan Whelan, 1975, dalam Budiningsih 2004:25) tidak memusatkan perhatian pada perilaku moral, artinya apa yang dilakukan seorang individu tidak menjadi pusat pengamatannya. Ia menjadikan penalaran moral sebagai pusat kajiannya. Dikataknnya bahwa mengamati perilaku tidak menunjukkan banyak mengenai kematangan moral. Seorang dewasa dengan seorang anak kecil barangkali perilakunya sama, tetapi seandainya kematangan moral mereka berbeda, tidak akan tercermin dalam perilaku mereka.
Penalaran moral menenkankan pada alasan mengapa suatu tindakan dilakukan, daripada sekedar arti suatu tindakan, sehingga dapat dinilai apakah tindakan tersebut baik atau buruk. Menurut Kohlberg yang dikutip dalam buku (Budiningsih, 2004: 25. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa dan Budayanya) menjelaskan bahwa penalaran moral tidak mutlak memusatkan perhatian pada pernyataan (statement) orang tentang apakah tindakan tertentu itu benar atau salah. Alasanya, seorang dewasa dengan seorang anak kecil mungkin akan mengatakan sesuatu hal yang sama, maka disini tidak tampak adanya perbedaan antara keduanya. Apa yang berbeda dalam kematangan moral adalah penalaran yang diberikannya terhadap sesuatu hal yang benar atau salah.
Penalaran moral dipandang sebagai suatu struktur pemikiran bukan isi. Dengan demikian penalaran moral bukanlah tentang apa yang baik atau yang buruk, tetapi tentang bagaimana seseorang berpikir sampai pada keputusan bahwa sesuatu adalah baik atau buruk.
Jika penalaran moral dilihat sebagai isi, maka sesuatu dikatakan baik atau buruk akan sangat tergantung pada lingkungan sosial budaya tertentu, sehingga sifatnya akan sangat relatif. Tetapi jika penalaran moral dilihat sebagai struktur, maka dapat dikatakan bahwa ada perbedaan penalaran moral seorang anak dengan orang dewasa, dan hal ini dapat diidentifikasi tingkat perkembangan moralnya.
Kematangan moral menuntut penalaran-penalaran yang matang pula dalam arti moral. Suatu keputusan bahwa sesuatu itu baik barangkali dianggap tepat, tetapi keputusan itu baru disebut matang apabila dibentuk oleh suatu proses penalaran yang matang. Oleh sebab itu tujuan dari pendidikan moral adalah kematangan moral, dan jika kematangan moral itu adalah sesuatu yang harus dikembangkan, maka seharusnya para guru dan pendidik moral mengetahui proses perkembangan dan cara-cara membantu perkembangan moral tersebut.
Penalaran moral memusatkan penyelidikan pada pola-pola struktur penalaran manusia dalam mengadakan keputusan moral dari pada mementingkan penyelidikan tingkah laku. Selanjutnya teori-teori perkembangan moral dengan jelas memperlihatkan tahap-tahap mana yang dilalui oleh seorang individu dalam mencapai kematangan moral.
Teori tersebut mengidentifikasikan tahap-tahap perkembangan moral dan perincian prosedur untuk menentukan siapa-siapa yang ada pada tahap-tahap itu. Dengan demikian teori itu memberikan suatu alat pendidikan yang tidak ternilai harganya, karena sudah menjadi aksioma dalam pendidikan bahwa pendidikan akan mencapai hasil yang efektif jika mengedepankan teori pendekatan moral. Program-program pendidikan moral yang disusun tanpa mengetahui tahap yang ditentukan, maka perkembangan anak atau karakteristik siswa tidak akan mungkin berhasil.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa penalaran moral pada intinya bersifat rasional. Suatu keputusan moral bukanlah soal perasaan atau nilai, melainkan selalu mengandung tafsiran kognitif yang bersifat konstruksi kognitif yang aktif dengan memperhatikan tuntutan, hak, kewajiban dan keterlibatan individu atau kelompok terhadap hal-hal yang baik.
Tahap-Tahap Perkembangan Moral
Tahap-tahap perkembangan penalaran moral tidak akan dapat berbalik yaitu bahwa suatu tahapan yang telah dicapai oleh seseorang tidak mungkin kembali mundur ke tahapan dibawahnya. Misalnya seseorang yang telah berada ditahap 5 tidak akan kembali pada tahap 3 atau tahap 4. Tendensi gerakan umum, proses perkembangan penalaran moral cukup jelas, yaitu gerak maju dari tahap 1 sampai tahap 6, dan gerak maju itu bersifat proses diferensiasi dan integerasi yang semakin tinggi dan menghasilkan pula peningkatan dalam hal universal.
Adapun tahap-tahap perkembangan moral menurut Kohlberg yang disarikan oleh Hardiman (19987) sebagai berikut :
1.Tingkat pra konvensional meliputi:
Tahap 1 : Orientasi hukuman dan kepatuhan.
Tahap 2 : Orientasi Instrumentalistis.
2.Tingkat konvensional meliputi:
Tahap 3 : Orientasi kerukunan
Tahap 4 : Orientasi ketertiban masyarakat
3.Tingkat pasca-konvensional atau tingkat otonom meliputi:
Tahap 5 : Orientasi kontrak sosial
Tahap 6: Orientasi prinsip etis universal
Dari tahap perkembangan moral, tingkat pra konvensional menjelaskan seseorang sangat tanggap terhadap aturan-aturan kebudayaan dan penilaian baik atau buruk, tetapi ia menafsirkan baik atau buruk itu dalam rangka maksimalisai akibat-akibat fisik dari tindakannya.
Sedangkan pada tingkat konvensional menjelaskan seseorang menyadari dirinya sebagai seorang individual ditengah-tengah keluarga, masyarakat dan bangsanya. Keluarga, masyarakat, bangsa dinilai memiliki kebenarannya sendiri. Maka dari itu kecenderungan orang pada tahap ini adalah menyesuaikan diri dengan aturan-aturan masyarakat dan mengidentifikasikan dirinya terhadap kelompok sosialnya.
Tingkat pasca-konvensional atau tingkat otonom mengemukakan bahwa hukum merupakan kontrak sosial demi ketertiban dan kesejahteraan umum. Perasaan yang muncul pada tahap ini rasa bersalah dan yang menjadi ukuran keputusan moral adalah hati nurani.
Dari keseluruhan tahap yang dikemukakan di atas secara ringkas dapat diketahui alasan-alasan atau motif-motif yang diberikan bagi kepatuhan terhadap peraturan atau perbuatan moral sebagai berikut:
Tahap 1 : Patuh pada peraturan untuk menghindarkan hukuman.
Tahap 2 : Menyesuaikan diri (conform) untuk mendapatkan ganjaran, kebaikannya
dibalas dan seterusnya.
Tahap 3 : Menyesuaikan diri untuk menghindarkan ketidaksetujuan, ketidaksenangan
orang lain.
Tahap 4 : Menyesuaikan diri untuk menghindarkan penilain oleh otoritas resmi
dan rasa diri bersalah yang diakibatkannya.
Tahap 5 : Menyesuaikan diri untuk memelihara rasa hormat dari orang netral yang menilai dari sudut pandang kesejahteraan masyarakat.
Tahap 6 : Menyesuaikan diri untuk menghindari penghukuman atas diri sendiri.
Berdasarkan penjelasan mengenai tahap-tahap penalaran moral diatas maka digariskan bahwa terdapat sejumlah tahap perkembangan penalaran moral yang dicirikan sebagai pola struktur pemikiran formal, terlepas dari isinya. Ada perbedaan kualitatif pada masing-masing strukturnya, atau cara berpikir yang berbeda yang mempunyai fungsi dasar dalam proses perkembangan. Semua struktur yang berbeda ini membentuk urutan tetap dan konsisten dalam proses perkembangan moral.
Pendidikan Budi Pekerti di Sekolah
Pendidikan budi pekerti memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan budi pekerti dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Dewasa ini banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan Pendidikan Budi Pekerti pada lembaga pendidikan formal. Tuntutan tersebut didasarkan pada fenomena sosial yang berkembang, yakni meningkatnya kenakalan remaja dalam masyarakat, seperti perkelahian masal dan berbagai kasus dekadensi moral lainnya. Bahkan di kota-kota besar tertentu, seperti Jakarta, gejala tersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam pembentukan kepribadian siswa melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan budi pekerti.
Manusia Indonesia menempati posisi sentral dan strategis dalam pelaksanaan pembangunan nasional, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia (SDM) secara optimal. Pengembangan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan mulai dari dalam keluarga, hingga lingkungan sekolah dan masyarakat.
Salah satu SDM yang dimaksud bisa berupa generasi muda (young generation) sebagai estafet pembaharu merupakan kader pembangunan yang sifatnya masih potensial, perlu dibina dan dikembangkan secara terarah dan berkelanjutan melalui lembaga pendidikan sekolah.
Beberapa fungsi pentingnya pendidikan sekolah antara lain :
1)Perkembangan pribadi dan pembentukan kepribadian
2)Transmisi kultural.
3)Integrasi sosial.
4)Inovasi.
5)Pra seleksi dan pra alokasi tenaga kerja.
Dalam hal ini jelas bahwa tugas pendidikan sekolah adalah untuk mengembangkan segi-segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang dapat dikembangkan melalui pendidikan moral. Dengan memperhatikan fungsi pendidikan sekolah di atas, maka setidaknya terdapat 3 alasan penting yang melandasi pelaksanaan pendidikan moral di sekolah, antara lain :
1.Perlunya karakter yang baik untuk menjadi bagian yang utuh dalam diri manusia yang meliputi pikiran yang kuat, hati dan kemauan yang berkualitas, seperti : memiliki kejujuran, empati, perhatian, disiplin diri, ketekunan, dan dorongan moral yang kuat untuk bisa bekerja dengan rasa cinta sebagai ciri kematangan hidup manusia.
2.Sekolah merupakan tempat yang lebih baik dan lebih kondusif untuk melaksanakan proses belajar mengajar.
3.Pendidikan moral sangat esensial untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan membangun masyarakat yang bermoral.
Pelaksanaan pendidikan moral sangat penting, karena hampir seluruh masyarakat di dunia, khususnya di Indonesia kini sedang mengalami patologi sosial yang amat kronis. Bahkan sebagian besar pelajar dan masyarakat kita tercerabut dari peradaban eastenisasi (ketimuran) yang beradab, santun dan beragama.
Akan tetapi hal ini kiranya tidak terlalu aneh dalam masyarakat dan lapisan sosial di Indonesia yang hedonis dan menelan peradaban barat tanpa seleksi yang matang. Di samping itu sistem pendidikan Indonesia lebih berorientasi pada pengisian kognisi yang eqivalen dengan peningkatan IQ (Intelengence Quetiont) yang walaupun juga di dalamnya terintegrasi pendidikan EQ (Emotional Quetiont).
Sedangkan warisan terbaik bangsa kita adalah tradisi spritualitas yang tinggi kemudian tergadai dan lebih banyak digemari oleh orang lain di luar negeri kita, yaitu SQ (Spiritual Quetiont). Oleh sebab itu, perlu kiranya dalam pengembangan pendidikan moral ini eksistensi SQ harus terintegrasi dalam target peningkatan IQ dan EQ siswa. Akibat dari hanyutnya SQ pada pribadi masyarakat dan siswa pada umumnya menimbulkan efek-efek sosial yang buruk.
Bermacam-macam masalah sosial dan masalah-masalah moral yang timbul di masyarakat seperti :
a.Meningkatnya pemberontakan remaja atau dekadensi etika/sopan santun pelajar.
b.Meningkatnya ketidakjujuran, seperti suka bolos, nyontek, tawuran dari sekolah dan suka mencuri.
c.Berkurangnya rasa hormat terhadap orang tua, guru, dan terhadap figur-figur yang berwenang.
d.Meningkatnya kelompok teman sebaya yang bersifat kejam dan bengis.
e.Munculnya kejahatan yang memiliki sikap fanatik dan penuh kebencian.
f.Berbahasa tidak sopan.
g.Merosotnya etika kerja.
h.Meningkatnya sifat-sifat mementingkan diri sendiri dan kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga negara.
i.Timbulnya gelombang perilaku yang merusak diri sendiri seperti perilaku seksual premature, penyalahgunaan mirasantika/narkoba dan perilaku bunuh diri.
j.Timbulnya ketidaktahuan sopan santun termasuk mengabaikan pengetahuan moral sebagai dasar hidup, seperti adanya kecenderungan untuk memeras tidak menghormati peraturan-peraturan, dan perilaku yang membahayakan terhadap diri sendiri atau orang lain, tanpa berpikir bahwa hal itu salah.
Guna merespon gejala kemerosotan moral tersebut, maka peningkatan dan intensitas pelaksanan pendidikan moral di sekolah merupakan tugas yang sangat penting dan sangat mendesak bagi kita, dan perlu dilaksanakan secara komprehensif dan dengan menggunakan strategi serta model pendekatan secara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua unsur yang terkait dalam proses pembelajaran atau pendidikan seperti, guru-guru, kepala sekolah orang tua murid dan tokoh-tokoh masyarakat.
Tujuan pendidikan moral tidak semata-mata untuk menyiapkan peserta didik untuk menelan mentah konsep-konsep pendidikan moral, tetapi yang lebih penting adalah terbentuknya karakter yang baik, yaitu pribadi yang memiliki pengetahuan moral, peranan perasaan moral dan tindakan atau perilaku moral. Pada sisi lain, dewasa ini pelaksanan pendidikan moral di sekolah diberikan melalui pembelajaran Pemdidikan Pancasila dan kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan agama akan tetapi masih tampak kurang pada keterpaduan dalam model dan strategi pembelajarannya
Penyajian materi pendidikan moral di sekolah, tampaknya lebih berorientasi pada penguasaan materi yang tercantum dalam kurikulum atau buku teks, dan kurang mengaitkan dengan isu-isu moral esensial yang sedang terjadi dalam masyarakat, sehingga peserta didik kurang mampu memecahkan masalah-masalah moral yang terjadi dalam masyarakat Bagi para siswa adalah lebih banyak untuk menghadapi ulangan atau ujian, dan terlepas dari isu-isu moral esensial kehidupan mereka sehari-hari. Materi pelajaran PPKn dirasakah sebagai beban, dihafalkan dan dipahami, tidak menghayati atau dirasakan secara tidak diamalkan dalam perilaku kehidupan hari-hari. Dalam upaya untuk meningkatkan kematangan moral dan pembentukann karakter siswa.
Secara optimal maka penyajian materi pendidikan moral kepada para siswa hendaknya dilaksanakan secara terpadu kepada semua pelajaran dan dengan mengunakan strategi dan model pembelajaran secara terpadu, yaitu dengan melibatkan semua guru, kepala sekolah ,orang tua murid, tokoh-tokoh masyarakat sekitar.
Pengembangkan strategi dan model pembelajaran pendidikan moral dengan menggunakan pendekatan terpadu diperlukan adanya analisis kebutuhan (needs assessment) siswa dalam belajar pendidikan moral. Dalam kaitan ini diperlukan adanya serangkaian kegiatan, antara lain :
1)Mengidentifikasikan isu-isu sentral yang bermuatan moral dalam masyarakat untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran di kelas dengan menggunakan metode klarifikasi nilai.
2)Mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran pendidikan moral agar tercapai kematangan moral yang komprehensif yaitu kematangan dalam pengetahuan moral perasaan moral, dan tindakan moral
3)Mengidentifikasi dan menganalisis masalah-masalah dan kendala-kendala instruksional yang dihadapi oleh para guru di sekolah dan para orang tua murid di tua murid dirumah dalam usaha membina perkembangan moral siswa,serta berupaya memformulasikan alternatif pemecahannya.
4)Mengidentifikasi dan mengklarifikasi nilai-nilai moral yang inti dan universal yang dapat digunakan sebagai bahan kajian dalam proses pendidikan moral
5)Mengidentifikasi sumber-sumber lain yang relevan dengan kebutuhan belajar pendidikan moral.
Peran Guru di Sekolah dan Keluarga Dalam Membina Moral Siswa
Peranan guru ibarat fondasi sebuah bangunan. Apabila fondasi kokoh, tentu saja bangunannya akan berdiri kuat dan tidak akan goyah. Namun, sebaliknya, jika pondasinya rapuh, bahkan keropos, sudah bisa ditebak, tinggal menunggu waktu, bangunan itu pun akan ambruk lantas rata dengan tanah.
Sejarah membuktikan negara yang miskin dengan SDA, namun kaya dengan SDM, maka mereka akan menjadi negara yang makmur dan kuat. Untuk itulah, cara terbaik meningkatkan SDM tersebut adalah melalui pendidikan yang dimulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan melalui pendidikan informal, formal, maupun non formal. Tak hanya itu, pendidikan moral menjadi bagian terpenting dalam pembentukan kepribadian seseorang, termasuk diantaranya siswa. Karenanya, komponen yang terpenting dalam peningkatan SDM tersebut adalah peranan seorang guru.
Seorang guru harus mampu mendidik dan memiliki kemampuan untuk melatih anak didiknya. Selain itu, ia pun harus mampu berperan di tengah kehidupan sosial kemasyarakatan, baik sebagai sumber informasi maupun teladan masyarakat. Karenanya, untuk menuju ke arah sana, seorang guru harus akrab dengan membaca, mendengar dan melihat, serta senantiasa disiplin dalam setiap melaksanakan tugas sehari-hari, baik dari segi kehadiran maupun pembelajaran terhadap peserta didiknya.
Oleh karena itu, agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien, maka setiap orang yang terlibat dalam pendidikan tersebut seyogyanya dapat memahami tentang perilaku individu sekaligus dapat menunjukkan perilakunya secara efektif. Seorang guru dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing, pendidik dan pelatih bagi para peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah. Ia memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan anak dalam proses identifikasi.
Seorang guru dinilai berhasil apabila ia mengenal anak didiknya melalui pribadi anak itu sendiri, lingkungan dan keluarga. Karenanya, seorang guru harus mampu memahami pribadi anak. Lewat interaksi dengan anak, ia akan dapat mengetahui pribadi, sifat-sifat, ciri-ciri, kemampuan dan kesusahan anak didiknya. Semakin banyak bergaul, semakin mengerti ia tentang pribadi anak didiknya itu.
Di samping itu, seorang guru juga wajib mengenal lingkungan keluarga anak, karena rumah dan keluarga adalah lingkungan hidup pertama mereka. Dari keluarganyalah mereka memperoleh pengalaman-pengalaman pertama yang mempengaruhi jalan hidupnya. Karenanya, untuk dapat mengetahui dan mengerti latar belakang kehidupan keluarga anak didiknya, seorang guru harus menyempatkan waktu untuk kunjungan ke rumah-rumah orang tua anak didiknya. Dengan memahami keterangan-keterangan mengenai latar belakang dimana mereka dibesarkan, seorang guru dapat memahami pengaruh-pengaruh yang turut membentuk kepribadiannya. Di sini, sikap dan perilaku orang tua banyak mempengaruhi perkembangan anak nantinya.
Sebagai kelompok masyarakat kecil, keluarga menjadi landasan utama pendidikan. Keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali seseorang dilahirkan dan memperoleh bermacam pengetahuan. Hubungan dan kedekatan anak dengan orang tua berbeda dengan hubungan anak kepada orang lain.
Hal itu dikarenakan pendidikan yang diberikan orang tua kepada anaknya masih asli dan tidak dibuat-buat. Karenanya, orang-orang di sekitar anak dapat membantu sekaligus merusak perkembangan hidupnya, tergantung pada tuntutan orang tua terhadap anak. Di samping itu, guru wajib mengenal dunia di sekitar anak dan lingkungan. Sebagaimana diketahui, pengaruh lingkungan terhadap anak dibagi ke dalam dua karakter, pertama, pengaruh lingkungan yang disengaja, seperti pendidikan dan pengajaran; dan kedua, pengaruh lingkungan yang tidak disengaja. Ini diterima oleh setiap orang dari lingkungan yang hidup iklim, dan kebiasaan- kebiasaan. Ia harus mengerti bahwa salah satu dari faktor yang mempengaruhi perkembangan anak adalah faktor lingkungan.
Hardiman (dalam Asri Budiningsih 2004:73), mengatakan bahwa;
Masyarakat dan keluarga telah memiliki nilai-nilai yang harus diikuti oleh generasi muda. Dalam menanamkan nilai-nilai tersebut digunakan cara instruktif, ceramah, nasehat, hukum edukatif dan kadang-kadang diskusi. Cara transmisi kultural ini hanya memberikan ”paket nilai-nilai” seperti jadilah warga masyarakat yang baik, belajar dengan rajin, bersikaplah tenggah rasa, berbuatlah sopan dan lain-lain. Cara demikian bukan hanya dapat dipertanyakan ”isi” kebenarannya, tetapi juga sangat jarang ada guru atau orang dewasa yang dapat mengajarkannya secara tepat dengan menghadapi anak atau remaja sebagai subyek moral yang rasional.
Pendidikan moral yang selama ini dilakukan menganggap bahwa setiap orang dewasa dapat menjadi pendidik moral. Anak/ remaja dengan cara indoktrinasi dibawa menuju kepada kedewasaan seperti yang dikehendaki orang-orang dewasa. Tujuan pembelajaran jika meminjam taksonomi Bloom, tidak sampai pada aspek penalaran atau penilain. Akibatnya anak dapat melaksanakan nilai-nilai yang dikehendaki orang dewasa, tetapi tidak memahami alasannya. Mereka dapat menghafalkan tetapi tidak mengerti maknanya. Cara ini tidak menghormati anak sebagai subyek moral, sehingga terbentuk nilai-nilai moral heteronom. (Linda dan Eyre, 1993 dalam Asri Budiningsih 2004:73).
Para guru, perancang dan teknologi pembelajaran dalam mengembangkan model atau strategi pembelajaran moral mestinya lebih berupaya memperkembangkan struktur kognitif yang telah ada dalam diri anak dan bukan sebagai upaya mengisi atau mentransfer begitu saja nilai-nilai. Demikian juga, guru atau orang tua tidak dapat memaksakan nilai-nilai kepada anak/ remaja.
Patut diduga bahwa perancang pembelajaran dalam mengembangkan strategi pembelajaran moral serta guru atau orang tua dalam mendidik moral anak, kurang memperhatikan faktor kognitif anak dan bahwa faktor ini berkembang secara bertahap. Barangkali ada baiknya para guru, perancang dan teknolog pembelajaran dalam mengembangkan model atau strategi pembelajaran moral menggunakan pendekatan stuktural kognitif yang dikemukakan oleh Kohlberg.
Pendekatan struktural kognitif yang dikemukakan oleh Kohlberg lebih menaruh perhatian pada penalaran moral daripada tindakan moral, dengan asumsi bahwa pemikiran moral akan mengarahkan tindakan moral. Ia menganggap tahap-tahap yang lebih tinggi sebagai lebih bermoral daripada tahap-tahap yang lebih rendah. Moralitas didefinisikan lebih pada ciri formalnya sebuah pertimbangan moral atau suatu titik pandangan moral, daripada segi isinya. Baginya ada nilai moral universal yang menjadi tujuan setiap orang dalam perkembangan moralnya, dan struktur kognitif menjadi kekuatan dinamis untuk mencapai tahap yang lebih tinggi.
Merancang model atau strategi pembelajaran moral, materi pembelajaran selayaknya dipusatkan pada suatu rangkaian dilema moral yang harus di diskusikan bersama antara guru dan siswa. Dilema-dilema moral dipilih untuk menimbulkan konflik-konflik kognitif, yakni rasa tidak puas mengenai apa yang benar dan menimbulkan perselisihan pendapat diantara siswa. Guru menciptakan diskusi diantara siswa pada dua tahap penanlaran moral yang berdekatan.
Peranan guru membantu siswa mempertimbangkan berbagai konflik moral, untuk melihat inkonsistensi dan ketidaksesuaian cara berpikir dalam mengatasi masalah-masalah moral. Program ini dapat di lakukan selama empat bulan dan pelaksanaannya satu minggu sekali.
Kesimpulan
Kesadaran moral bagi sebagian pelajar diakibatkan kurangnya pemahaman serta bimbingan pihak lain. Untuk itu diperlukan adanya tanggung jawab dari semua semua aspek, baik keluarga hingga pihak sekolah. Konsep penalaran moral diterapkan guna memberikan perubahan sikap terhadap siswa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Pendidikan moral dinilai sangat penting khususnya bagi perkembangan kepribadian siswa, karena secara langsung dapat memberikan perubahan sikap terhadap siswa itu sendiri.
Siswa yang kurang mendapat pendidikan moral dapat terlihat pada sikap dan perilaku mereka sehari-hari, seperti tidak menghargai orang disekitar, bahkan hal yang paling ironis terlihat dari ketika siswa yang tak memperoleh pendidikan moral akan melakukan tindakan yang berujung pada bentuk-bentuk kriminalitas, seperti mencuri, pembunuhan, penipuan dan segala bentuk sesuatu yang merugikan orang lain.
Peran dan keluarga dan sekolah sangat penting dalam membentuk sikap moral siswa. Seorang guru tidak hanya mampu menjadi pengajar saja, akan tetapi guru juga dituntun sebagai pendidik, mereka sebuah pondasi yang harus menjadi penopang bagi anak didiknya.
DAFTAR RUJUKAN
Budiningsih, Asri, 2004. Pembelajaran Moral Berpijak Pada Karakteristik Siswa dan Budayanya. Jakarta: Rineka Cipta.
Duska, R. dan Whelan. 1975. Moral Development: A Guide to Piaget and Kohlberg. New York: Paulist Press.
Hardiman, B . 1987. Pendidikan Moral Sebagai Pendidikan Keadilan. Yogyakarta : Basis “ Andi Offset “.
Karma, Lewa, 2004. Merancang Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Atmosfer Pendidikan Formal.
Magnis-Suseno, F. 1987. Etika Jawa, Sebuah Analisis Falsafi tentang Kebijakan Hidup Jawa. Jakarta: PT Gramedia.
Taqur, Firman, 2007. Pendekatan Penanaman Nilai Dalam Pendidikan. Dokumen Pribadi.
Trimo, 2007. Pendekatan Penanaman Nilai Dalam Pendidikan Budi Pekerti Di Sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *